Thursday, 25 April 2013

Kaum DHUAFA

TIGA PULUH TANGKAI BUNGA BENTUK NYATA PEDULI KAUM DHUAFA

 

Ditengah kondisi masyarakat Indonesia yang masih lemah, dimana masih tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran. Diperlukan usahah semua pihak untuk dapat membantu sesama masyarakat Indonesia agar dapat bertahan dari kondisi saat ini. Untuk dapat meringankan beban sesama, kita sebagai mahasiswa dapat melakukan banyak hal dan dengan berbagai macam media baik organisasi, perorangan maupun dalam bentuk komunitas.

Selain itu ada banyak kaum dhuafa yang masih membutuhkan bantuan, baik berupa bantuan materil maupun moril. Oleh karena itu kami selaku mahasiswa yang selalu harus melakukan caturdharma perguruan tinggi sepatutnya membantu masyarakat khususnya yang memiliki kekurangan materil dan moril. Adapun kegiatan yang dilakukan ini merupakan kegiatan proyek sosial dari kegiatan Student Soft Skill Development (S3D) yang diadakan oleh Fakultas Teknologi Industri-UII merupakan wujud kepedulian kita sebagai mahasiswa yang memilki jiwa kepedulian yang tinggi.

Sebagai bentuk rasa peduli kami akan keadaan sekitar, maka sebagai generasi muda ingin mengadakan sebuah bentuk kegiatan yang dapat berguna bagi masyarakat sekitar. Banyak pihak yang tidak menyadari bahwa di sekitar kita terdapat orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan. Dan dengan keterkaitan antara nilai-nilai luhur kemanusiaan tersebut maka kami merencanakan untuk mengadakan sebuah proyek sosial kepada seorang dhuafa di daerah Malangrejo, Sleman, Yogyakarta. 

            Kegiatan proyek sosial ini sebenarnya merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial kita untuk dapat memberikan manfaat terhadap masyarakat khususnya kaum dhuafa. Kegiatan ini juga merupakan bagian dalam rangkaian kegiatan Student Soft Skill Development (S3D) yang diadakan oleh Fakultas Teknologi Industri-UII.proyek sosial ini merupakan suatu bentuk bantuan yang walaupun tidak seberapa namun sangat berguna untuk membantu meringankan beban mbah Mikem seorang dhuafa.

Proyek sosial dari kegiatan Student Soft Skill Development (S3D) ini kami sepakati bersama untuk mengunjungi dan memberikan bantuan kepada kaum dhuafa. Yaitu seorang dhuafa yang tinggal di daerah Malangrejo, Sleman, Yogyakarta. Penentuan target proyek sosial kami awalnya mengalami kendala sebab ada banyak sekali kaum dhuafa yang ada di daerah Malangrejo, Sleman. Tujuan kami ialah seorang dhuafa yang benar-benar sudah tidak ada sanak saudaranya yang mau mengurus dan hidupnya hanya tergantung dari pemberian dan belas kasih orang lain. Setelah mempertimbangkan hal tersebut akhirnya kami menetukan memilih seorang dhuafa, ia bernama mbah Mikem, berusia sekitar 70 tahun dan hidup seorang diri di gubuk kecil yang berukuran 3x3 m. Keseharian mbah Mikem hanya membantu pekerjaan di sawah milik orang lain untuk mendapatkan sedikit beras dan sayuran yang nantinya dimasak sendiri atau dijual di pasar. Dan hasil yang di dapat dari penjualan sayuran itu tidaklah seberapa hanya cukup untuk beberapa kali makan. 


mengunjungi mbah Mikem di sawah



mbah Mikem (baju orange)

Oleh sebab itu terkadang setiap harinya ada tetangga yang membantu memberikan makanan kepada mbah Mikem. Mbah Mikem sudah tidak mementingkan penampilan dan kebutuhan yang lain. Baju yang ia pakai setiap harinya hanyalah satu saja. Dan itu jarang sekali di cuci dan tidak pernah diganti jika belum benar-benar rusak. Bagian dalam rumahnya pun tidak terdapat barang yang berharga. Selain hanya tumpukan kayu bakar yang berserakan dimana-mana dan gantungan baju dari bambu yang dipasang melintang didalam gubuknya. Ia tidak memiliki kasur untuk tempat tidur apalagi bantal dan selimut. Yang ada hanya tumpukan batu-bata untuk memasak denga kayu bakar dan wajan yang sudah tidak layak pakai, selain itu juga ada kendi kecil untuk tempat air minum. Begitulah gambaran tentang kehidupan mbah Mikem. Baginya yang penting hari ini bisa dapat makanan untuk bertahan hidup. Selain itu tidak pernah terpikirkan olehnya. Memang mbah Mikem memilki kelainan yang membuat ia susah berbicara dengan orang yang baru dikenalnya dan ia pun sangat jarang bebicara kepada orang di sekitar tempat tinggalnya. 



keadaan dalam rumah mbah Mikem

Disini kami menemukan hal baru, bagaimana kehidupan seseorang yang memilki kelainan jiwa tapi masih begitu diterima dan dihargai di tengah masyarakat. Mbah Mikem memiliki alasan tersendiri mengapa keadaan nya bisa seperti saat ini. Ia memilki masa lalu yang kelam yang jarang orang lain merasakannya. Ia dulu hidup bahagia bersama suaminya dan seorang anak. Entah karena alasan apa yang tidak bisa kami cari tahu karena mungkin hanya mbah Mikem yang tahu, ia ditinggalkan oleh suami dan anaknya. Hingga berpuluh tahun ia hidup seorang diri tanpa sekali pun dijenguk oleh suami dan anaknya. Mungkin karena itu beliau memiliki keterbelakangan mental seperti ini. Tapi hal itu bukan perkara penting yang dipermasalahkan masyarakat. Mbah Mikem tetaplah mbah Mikem yang selalu diterima oleh masyarakat Melangrejo dan setiap harinya masih ada orang yang mau membantu memberikan kebutuhan hidup kepadanya.
Pada hari pelaksanaan, kami terlebih dahulu meminta izin kepada warga desa Malangrejo untuk mendampingi memberikan bantuan kepada mbah Mikem. Setelah kami diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat sekitar tempat tinggal mabah Mikem kami dipersilahkan menemui mbah Mikem yang pada saat itu sedang bekerja membantu menanam padi di sawah. Ternyata mbah Mikem sedikit mengalami gangguan kejiwaan, ia tidak mau diganggu oleh siapapun ketika sedang bekerja. Dan beliau susah untuk diajak berbicara. Oleh karena itu kami hanya bisa berbincang-bincang dengan tetangga beliau. Dan pemberian bantuan dari kami hanya bisa lewat tetangga nya yang setiap hari mengurus mbah Mikem.  

pemberian sembakao kepada mbah Mikem diwakili oleh tetangganya












Alhamdulillah masyarakat sekitar tempat tinggal mbah Mikem menerima kami dengan baik dan setelah pemberian bantuan kami berbincang-bincang mengenai mbah Mikem dengan masyarakat sekitar. Keseharian mbah Mikem hanyalah bekerja disawah milik orang lain dan mendapat imbalan dari pekerjaannya itu untuk membeli makan. Sehari-harinya pun hanya bantuan dari tetangga untuk sarapan pagi atau makan malam. Karena memang tidak seberapa uang yang dimiliki mbah Mikem dari hasil pekerjaannya itu. Kami berharap apa yang kami berikan dapat membantu dan bermanfaat bagi mbah Mikem. 

pemberian sembako melalui tetangga mbah Mikem




di depan rumah gubuk mbah Mikem







Setelah semua tujuan dan niat baik kami tersampaikan, kami meminta diri untuk melanjutkan kewajiban-kewajiban kami yang lainnya, dan kami juga mendokumentasikan kebersamaan kami dengan mbah Mikem dan masyarakat disekitar agar silaturahmi senantiasa terjalin untuk mempererat persaudaraan diantara sesama makhluk Allah SWT. 
Dalam pelaksanaan proyek sosial S3D ini meskipun ada beberapa masalah yang timbul namun pada akhirnya dapat diselesaikan dan dapat diatasi dengan baik, sehingga berjalannya kegiatan ini pun juga berjalan dengan lancar. Antusiasme dan sambutan yang baik dari masyarakat desa Malangrejo dapat menjadi salah satu parameter kelancaran kegiatan kami. Selain itu kami selaku pelaksana kegiatan juga merasa cukup puas dengan hasil yang kami dapatkan, karena kami tidak menilai sebuah pemberian secara kuantitas namun secara kualitas. Dan yang terpenting bahwa kami sudah melaksanakan amanah yang telah diamanahkan kepada kami dengan sebaik-baiknya. Sebagai transparansi dana, kami juga melampirkan rincian harga dan nota dalam kegiatan ini.
            Harapan kami untuk jangka panjang adalah para mahasiswa bisa selalu memupuk rasa kepedulian terhadap orang-orang yang tidak mampu, tidak hanya dalam sebuah proyek sosial namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ada tindak lanjut dari kegiatan yang telah dilaksanakan saat ini dan dapat menjadi ikatan silaturahmi yang kuat. amin


 

0 komentar:

Post a Comment

anggamadi@gmail.com